Minggu, 24 April 2011

tugas cerpen "DILEMA EKSEKUSI DIRI"


DILEMA EKSEKUSI DIRI

            “Renung….. renung… merenung lagi….!!!!” Terdengar suara serak laki-laki yang berasal dari balik pintu, dengan memakai seragam seperti kebanyakan siswa SMA lainnya. Dia adalah Tio, sahabat akrabnya widi dari kecil. Tio adalah manusia yang paling dekat dia kenal di sekolah itu semenjak kepindahannya dari sekolahnya yang lama karena orang tuannya Widi memutuskan untuk pindah kerja, tetapi walaupun setelah pindah kerja orang tuannya Widi tetap saja sering kaluar kota, mereka lebih mementingkan pekerjaan ketimbang anak semata wayangnya, akan tetapi sahabatnya Tio yang baru saja bertemu kembali masih setia menemaninnya. Tirai-tirai jendela kelas berterbangan di tiup oleh sepoi-sepoi angin membuat suasana lebih dramatis.
          “heii….!” Widi tersentak dalam lamunan, sementara Tio masih menatap Widi sambil tersenyum.
          “gimana nih… disekolah yang baru??” Tio bertanya tanpa melepaskan sedikit pun senyumnya
          “mmm bagus… standar Internasional kan?”
          “bukan itu… kamu betah kembali lagi kesini…?” Tio semakin mendekat
          “iya..iya.. betahlah…” Widi membalas senyum Tio
          “gimana?” Tio bertanya tanpa jelas
          “gimana apanya??” wajah Widi berubah ,menjadi penasaran
          “perguruan tinggi mana yang kamu pilih…? kita kan udah kelas XII saatnya memikir masa depan” pertanyaan Tio kali ini membuat keheningan sejenak diantara mereka, tampak ekspresi kebingungan di wajah manis Widi.
          “mmm…..” tanpa jawaban Widi langsung memalingkan wajah dari hadapan Tio dan pergi.
          Tio merasakan keanehan sikap dari Widi belakangan ini. Soalnya Widi sering sekali menyendiri di privateroom di setiap ada waktu kosong, Tio sempat berfikir Widi sekarang ini bukannlah Widi yang dulu. Sementara Widi yang berpaling dari hadapan Tio itu langsung berlari di sepanjang koridor tanpa ada tujuan arah yang di maksud. Pada akhinya langkah Widi terhenti di lapangan basket, dia melihat sekelompok siswa laki-laki yang ada di sana, dia masih mengingat sewaktu dia masih sebagai kapten basket di sekolahnya. Belum lama dia berdiri di dekat koridor yang dekat dengan ring basket “buuuummmm…..” sebuah bola basket mengenai kepalanya, kemudian widi terjatuh.
          “awh….” Kepala Widi terasa pusing akibat benturan bola
          “waduh sorry…. Maaf…” kata seorang laki-laki berbadan tinggi dan manis itu.
          “udah ngga pa-pa…” Widi langsung meninggalkan laki-laki itu
          “hey tunggu…. Nama kamu siapa???” laki-laki itu berteriak namun sedikit di tekan agar tidak terdengar oleh teman-temannya.
          Widi terus berjalan tanpa menghiraukan suara itu dan terus mempercepat langkahnya hingga menuju ke gudang di sudut sekoalah, semakin panasarannya dia semakin melihat-lihat di sekitar gedung itu, terlihat sebuah lobang sebesar badan di pagar sekolah yang bolong, kemudian ia melihat keluar ternyata ada sekelompok rumah yang sedikit kumuh dengan bekas-bekkas Koran sebagai dindingnya. Lalu dia terus melangkah hingga di depan rumah kosong itu, rumah yang mungkin tempat tinggal para orang-orang tidak mampu. Rumah itu sangat sederhana sekali dengan seng-seng bekas sebagai atap dan beberapa tumpukkan kardus dan Koran beserta barang-barang bekas. Setelah itu terlihat sekumpulan anak kecil datang.
          “hey….” Widi menyapa anak kecil itu dengan ragu
          “kakak siapa?” Tanya anak kecil yang berbadan kecil tetapi Widi membalas dengan senyum
          “ kakak widi… dari SMA di dekat sini…..” jawab Widi tenang
          “pasti kakak orang kaya ya… bisa sekolah di sana..” Tanya anak yang sedikit lebih besar
          “ ah engga kakak tadi Cuma lewat…. Kakak belum pernah kesini sebelumnya….”
          Kali ini Widi mencoba akrab dengan mereka dan melupakan semua masalah yang sedang di hadapinya, Widi sering kali kesepian karena orang tuanya sering pergi meninggalkannya keluar kota untuk bekerja, tapi sekarang rasa kesepian widi sedikit terobati, Widi berfikir untuk apa uang yang tidak biasa memberikannya kasih sayang tetapi sebaliknya orang yang tidak mempunyai apa-apa bisa hidup dengan bergelimpah senyuman ceria.
          “kak lapar….” Kata anak terkecil dari segerobolan tersebut Widi menatapnya dengan kasihan
          “ini kakak ada sedikit roti…” kata Widi sambil mengeluarkan dua bungkus roti yang dibawanya dari rumah. Lama-kelamaan Widi semakin akrab dengan anak-anak jalanan itu mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Kemudian Widi memutuskan untuk pulang.
          Dalam perjalanan ke rumah Widi bertemu dengan laki-laki yang Ia temui di lapangan basket tadi siang, lelaki itu keluar dari rumahnya Tio dengan membawa tas yang biasanya di pakai untuk sekolah, tetapi Widi mencoba bersembunyi diantara warkop di dekat rumahnya agar tidak ketahuan, dan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang berhadapan dengan rumah Tio.
          Ternyata masalah ayang di hadapi Widi kembali datang. Terdengar suara seperti suara bertengkar dari rumahnya, suara itu tak asing lagi baginya. Kali ini orang tua Widi bertengkar lagi suasana rumah  mencengkam bagaikan neraka, apa lagi terdengar suara isak tangis dari bundanya, di hatinya ingin sekali untuk membela bundanya tapi dia mengurungkan niat dan berlari kekamar sambil membanting pintu, yang menggambarkan kekesalan Widi.
          “aku bukan apa-apa disini…. Disini aku bukan apa-apa… hiks…hiks… Tio aku butuh kamu” Widi menangis sambil menutupkan bantal keatas kepalanya agar suara tangisnya tidak terdengar oleh orang tuanya. Kemudian sebuah sms masuk dari handphonenya.
          From : Tio
          Wid knpa kmu lari tdi apa ak slah bcara?
          To : Tio
          Io… ak lg bnyak mslah ak lg btuh kmu skrg
          Ak tunggu kmu d t4 qta ngmpul msih wktu msih kecil
          from : Tio
          Ok J.

          Sekarang Widi menuju taman di belakang rumah. Belum sampai dia ke bawah pohon ditaman ternyata Tio sudah lama menunggu, sekarang Tio memang terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan Tio sewaktu smp, tanpa sadar pipi widi memerah.
          “hey…. Kenapa kamu?” Tanya Tio sambil mengeluarkan senyum yang biasanya
          “aku dapat masalah lagi Tio… hiks..hiks…” Widi menangis kepundak Tio dia merasakan kasih sayang sahabatnya yang selama ini terpisah
          “kenapa…. Siapa yang bikin kamu nangis Wid?” sikap Tio berubah menjadi penasaran dan keluar dari sikap dinginnya
          “ orang tua ku berantem lagi tio…. Hiks…hiks..” kata-katanya terbata-bata..
          “tenang Wid tenang… semuanya akan menjadi baik….” Tio mencoba menenangkan Widi
          Beberapa saat kemudian Widi lelah dalam tangis, dia mulai mengantuk dan lama-kelamaan tertidur di kursi di samping Tio yang sedang sibuk dengan gitarnya.  Tiba-tiba kepala Widi tersandar di  bahu Tio, seketika dia terkejut bingung harus bagaimana. Tapi dia mengantar Widi dengan menjaganya agar Widi tidak terganggu dalam tidurnya.
          Keesokan harinya Widi menanyakan yang mengenai tentang masa depannya
          “bunda… widi mau kuliah di Universitas Indonesia…”
          “tapi Wid.. papamu ingin kamu kuliah di Amerika…”
          “tapi Widi maunya di Indonesia ma..”
          “ sudahlah Wid mama sudah lelah bertengkar dengan papamu…. Mama capek wid..”
          Widi terdiam dia merasakan ada dilema yang mengeksekusi dirinya. Dalam kegelisahan hatinya Widi mencoba untuk menghibur diri dengan bermain di belakang gudang sekolah bersama anak-anak yang kurang mampu, tetapi semua kegembiraan yang dia datangkan bersama anak-anak yang kuarang mampu itu terhenti. Ternyata papanya melihatnya bermain di lingkungan kumuh itu
          “widi!!!, apa-apa’an kamu… bermain dengan mereka, kamu sadar Widi papamu memberikanmu dengan berkecukupan lebih dari cukup, kamu itu anak orang kalangan atas… tidak pantas kamu bermain dengan orang-orang seperti mereka….” Kata papa Widi dengan penuh amarah
          “pa…  mereka itu sama kaya’ kita pa..”
          “ sudah cukup.…. Masuk kamu ke mobil…”
          Widi menangis dan berlari kabur menuju rumah Tio, tanpa sadar dia masuk menerobos hingga kamar tio sambil berteriak “TIiOOOO…..!!!!!”, Tio melompat dari kamar mandi masih menggunakan handuk dengan ekspresi cemas… secara histeris Tio berteriak
 “Widi….. kenapa kamu di sini…. Ayo keluar ntar aja nangisnya aku mau pakai baju dulu…. Handuknya mau lepas nii…” wajah Tio masih dalam keadaan was was
“ hehhee… iya….” Sambil tertawa bercampur air mata di pipi Widi keluar kamar, hanya sebentar Widi bertemu dengan Tio dia langsung sedikit kehilangan kesedihannya”
Beberapa hari ini Widi kabur dari rumah, dia masih marah dengan papanya. Dia memutuskan kabur kerumah Tio selama beberapa hari. Ibunya Tio ternyata seramah anaknya, dia juga memperbolehkan Widi menginap di rumahnya.
Malam ini dirumah Tio ada acara Yasinan bulanan. Widi membantu untuk mempersiapkan segalanya. Sambil mempersiapkan semuanya dia mencoba curhat dengan ibunya Tio tentang masalah yang ada. Ibunay Tio menyarankan Widi untuk sholat tahajud memohon kepada Allah agar semua masalah dapat terselesaikan dengan mudah. Semua yang disarankan ibunya Tio dilaksanakan dengan Widi
Beberapa hari setelah itu orang tuanya Widi menjemputnya dan merayunya untuk pulang. Tetapi widi meminta beberapa syarat yaitu syarat yang pertama papanya widi harus memberi makan anak-anak yang ada di pemukiman belakang gudang sekolah dan yang kedua mengijinkannya untuk kuliah di Universitas Indonesia.
Semua masalah yang dihadapi Widi kini terselesaikan dengan mendekati diri kepada tuhan yang maha esa karena tak ada masalah yang tak dapat diselesaiakan. Sekarang semua dilema yang mengeksekusi widi telah hilang karena  sesungguhya masalah yang kita hadapi dapat diselesaikan dengan kita sendiri melalui perantara orang lain.




Eka Ratna Sari
          X RSBI D

Rabu, 05 Januari 2011

NOMER NYASAR…

Gue risih banget sama orang-orang yang suka missed call ngga jelas atau yang sms pura-pura nyasar , padahal ujung-ujungnya minta kenalan doang. Apa lagi yang suka ngerjain pakai private number, kurang kerjaan aja.
Gue inget waktu masih kelas III SMP, itu hal aneh tapi nyata dalam kehidupan gue yang pernah gue alami. Padahal itu dilakukan tanpa ada unsure kesengajaan. Apakah itu???.....
Ketika gue lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan UN, gue mutusin engga mau makai yang namanya handphone, apa lagi sempat kesal karena trauma teman akrab yang ngalaminya. Akhinya hp semata wayang yang gue punya itu gue bongkar satu-satu. Ibarat kalau robot-robotan itu, tangan sama badannya di lepas atau kaki sama badannya di copot dan kepalanya dijadiin bola pimpong. Maksudnya tuh hape gue pisahin satu-satu antara baterai, sim card, dan chasingnya , gue copot semua, habis kadang-kadang bikin enekkalau lagi belajar serius-serius terus ada yang sms ngga penting, misalnya Cuma mau bilang, pagi……, siang….., sore……, kalau dibales palingan balesannya “lagi ngapain ???”
Contoh :
From : kuda betina
Pagi….
To : kuda betina
Pagi jga….
From : kuda betina
Lagi npainZZ???

Dan seterusnya pasti obrolannya ngga ada habis-habisnya sampe jempol bengkak Cuma buat bales sms. Padahal intinya Cuma buang bonus. Lama-lama bikin ilfill, kalau ilfill biasanya gue sms kaya gini :
From : kuda betina
Pagi….
To : kuda betina
sore jga….
From :kuda betina
elu lagi kna rabun ayam ??
To : kuda betina
Gw rabun GARA2 LIAT SMS LO…..!!!.
From : kuda betina
????....
Nah, kalau smsannya kayak gini jadi berakhir stragis, bisa-bisa menimbulkan cekcok yang berat. Endingnya malah memutuskan hubungan silaturahmi. Sebenarnya hal-hal stragis seperti ini sering terjadi di sekitar kita, makanya gue ngga suka smsan.
Setelah gue mencopot semua yang membungkusi hape gue, alhasil malah hape gue tambah sexy dan unik. Gue jadi ngga tegaan jauh-jauh dari hape gue. Terus terpaksa gue pasang lagi, bener-bener ngerepotin. Terus terpaksa geu pasang lagi, belum berapa lama gua pasang ternyata ada sms masuk yang isinya extreme banget dari pada permainan fear factor.
Isinya :
From : KELINCI MACAN
Dalam rangka menyabut UN mka qta brsama” utx brdoa agr smua anak Indonesia lu”s 100% . untuk itu krim ke 20 nomer hape tmen kamu. Dan bagi sypa yg tdk menyebarkan sms ni maka anak seindonesia akan berdoa smoga anda tdk lu”s. AMIN.
Di dalam sms yang berisi insiden ini, jantung gue mulai berdetak mau keluar. Gue bingung bertambah kesal, rasanya mau gue cemplungin tuh hape ke gallon ( kenapa mesti gallon????). gue bingung banget sms itu mempertaruhkan harga diri gue antara hidup dan mati. Gue sebenarnya ngga pernah sama sms yang kayak gituan tapi kalau masalah kelulusan itu berhadapan masa depan gue. Yah, terpaksa gue kirim juga. Beberapa detik kemudian muncul tulisan “not sending”. Anjriiit……. Pulsa gue habis, waduuuhh… gimana ni mati gue….. mampus….. gue ketakutan banget malam itu, sampai-sampai ngga bisa tidur. Tapi karena gue adalah seorang anak yang selalu mendengarkan omongan ortu. Jadi setiap gue ngga bisa tidur malam, gue bisa sholat tahajud, kata bokab gua sih manjur.
Hari pertama UN dek-dekan banget apalagi denger-denger kabar burung (ngga tau burung jenis apa??) pengawasnya serem, trus ada yang bilang tas sama hape bakalan diperiksa satu persatu . gue langsung cemas setengah mati, gue berfikir dalam hati ntar kalau ada yang mau jebak gue gimana lewat sms, duh…bisa tewas di tempat nih…. Seharusnya gue tinggalin di rumah aja tuh hape. Akhinya gue dapet ide brilian, gue ganti sama sim card pribadi sama sim card yang biasa di pakai, biar ngga ada sms yang masuk.
Sekitar beberapa hari kemudian UN udah selesai. Ini saatnya buat ganti nomer lagi ke nomer yang semula. Tapi sewaktu di cari, sim card yang biasa dipakai ternyata ngga ada di tempat. Semua tempat udah gue cari, gue kewalahan ntar kalau ada sms penting masuk gimana, lagian gw kan udah janji sama diri sendiri ngga bakalan ganti nomor hape lagi. Gue bingung setengah mati… gue bongkar semua lemari yang ada di rumah alhasil tetep ngga ada. Ternyata semua perbuatan itu ada untung dan ruginya… sim Card gue HILANG ….!!!
Besoknya sewaktu pulang sekolah gue curhat sama temen sebangku gue, tentang kehilangan nomer hape yang kucintai…
“ saras, gue mau curhat…”
“ curhat apa ?”
“ ini ceritanya stragis banget….” ( saras semakin penasaran )
“ apa’an?”
“ sim card gue hilang…!!!”
“huft….!!” Saras mendengus
“lu kan punya yang satu lagi” sambungnya
“tapi kan gue mau yang kartu As….”
“ ya udah kita beli…..”
Dengan muka kecewa+sedih gue akhinya mangut-mangut aja.
“kartu As ku…. Kartu As ku… “ gue masih histeris
“ ya udah relakan aja kepergiannya “ saras menenangkan gue
Gue shock banget rasanya seperti kehilangan orang yang gue cintai.
Dengan berat hati gue nelangkahkan kaki untuk beli sim card baru di salah satu counter di Bengkulu. Saras kemudian memegang pundak gue terus bersuara “ ka pilih aja nomer yang menurut lo bagus, relakanlah nomor yang lama “ katanya sok puitis.
Kemudian gue memilih salah satu nomor kartu As yang menurut gue menarik. Gue sengaja banget setiap beli sim card pasti kode daerahnya luar kota, kali ini gue pilih kode Jakarta, kalau nomer gue dulu kodenya DIY dan Jateng. Gue Cuma nyengir-nyengir sendiri ntar kan kalau ada nomer nyasar, kalau di Tanya gue tinggal dimana ntar gue tinggal nyebutin Jajarta (cah ile.. ngareb), pikirkan keuntungannya…
Sepulang ke rumah gue langsung nyobain nomor baru itu, pertama gue pakai buat ngasih tau sama temen-temen kalau nomor gue udah ganti. Sambil ngobrol-ngobrol sama temen deket, sambil cekikikan gue mencet nomer yang menurut gue itu nomer hape gue yang baru, kemudian gue calling sendiri, tujuannya Cuma mau tau pulsa aja soalnya kalau pulsa ngga mencukupi pasti ada suara omelan-omelan yang keluar. Eh, ternyata nomer gue masuk ke nomer orang lain. Pertamanya gue bingung, kok bisa ya calling nomer sendiri tapi bisa masuk gitu. Eh ternyata nomer orang , mampus gue…..! ,gue shock banget terus langsung gue matiin. Ternyta nomernya mirip banget sama puny ague, Cuma beda angka 6 sama 9 doang….
Untung gue orangnya cepat respon , langsung gue minta maap.
To : 085211974761
M’af saya tdi mo mZcall nomer sndiri, tpi malah nyasar … skali lgi saya minta maap…
From : 085211974761
G pa-pa udh di m’fin kok
Klw bole tau ni sypa??
Karena shock berat gue langsung bales dengan nama samaran dengan berkedok cowok, dengan gaya sok cool
To : 085211974761
Ini Irfan. Sorry gw ngga bermaksud ngeganggu. Emang’X nomer gw udh nyampe mNa ni??
From : 085211974761
Owh,, g pa-pa pun. Aq dri Medan…
To : 085211974761
Wih….. horas bah….
Jauh bgt.
From : 085211974761
Kmu jg dri medan??
(dan seterusnya)

Akhirnya hari-hari aneh gue dengan nomer nyasar ini segera di mulai, gue boong kalau gue cowo dan pada akhirnya gue ngaku kalau gue cewe.
Tapi dia orangnya aneh banget, pertamanya dia ngga percaya kalau gue cewe, tapi akhinya dia percaya juga. Dia palingsering nelpon sekitar jam 12 malam, gue sempat berfikir
Kalau dia itu setan hape. Karna waktu gue Tanya “ fit …. Lu tuh tidur malem jam berapa????” terus dia jawab “ jam1, emang napa?”. Gue langsung shock gue fikir dia setan beneran, gue juga kadang-kadang risih sama dia soalnya dia sering sms atau nelpon pada jam-jam sibuk gue.
Suatu hari gue nanya sama dia,
“fit… gue boleh nanya ngga???” (kalau mau nanya kan harus minta ijin dulu)
“boleh…apa?”
“kenapa sih waktu nomer gue nyasar, lu malah ngajak gue kenalan?” kata gue kalem.
“eka kok komplin” katanya dengan kecewa
“fit,,, menurut kamu , aku tuh gimana orangnya???” (pertanyaan gue yang ini mirip cowo mo nembak cewe, tapi gue tetep ngga nyadar)
“baik…” jawabnya singkat.
“Cuma itu??”
“kamu itu baik enak di ajak curhat”
“ emangnya kamu pernah curhat sama aku??” Tanya gue protes
“ya engga juga si.. tapi kamu itu orangnya baik menuruit aku ..” kata-kata fitri mulai ngeles.
“Cuma itu??” gua mengulang pertanyaan
Tapi setiap aku Tanya lagi, fitri jawabnya Cuma itu-itu doing ngga ada kemajuan.
Selang beberapa bulan, gue sengaja engga berkomunikasi sama dia lagi dan menghapus nomernya di kontak gue. Tapi anehnya dia ngga pernah sms atau calling gue lagi. Sebenarnya maksud gue ngapusin nomornya itu, karena gue sebel dia suka gonta ganti nomor. Tapi dia sekarang udah menghilang, seperti ada yang dia sembunyiin dari gue. Soalnya waktu gue Tanya berapa Nem kelulusan dia, dia malah jawab 44 padahal kan mata pelajaran yang masuk UN Cuma empat. Gue sempat berfikir kalau dia itu seorang yang udah lama meninggal terus menghatui gue lewat sms, soalnya setau gue 5 mata pelajaran itu kelulusan SMP pada waktu gue kelas enam SD, berarti tuh anak bangkit dari kubur lima tahun kemudian setelah dia meninggal.
Gue masih inget banget curhatan terakhinya, itu gue duluan yang sms dia.
To : Fitri M
Mlem fit… gie npain??
From : fitri M
Lagi sakit hati….
To: Fitri M
Knpa?
From : fitri M
Cariin gw cwo dunx ka…
To: fitri M
Ktanya fi3 udh pnya co:…
From : fitri M
Iya tpi udah ptus,,,
To: fitri M
Knapa putus?
From: fitri M
G tau dh ka.. ngga usah dibhas..
To: fitri M
Kya’X g da dh fit…
(hening)
Karena kelamaan ngga dibalas-balas gue jadi bête, sampe berlumut juga pasti ngga dibalas, gumam gua. Truzz.. gue masukin nomornya ke number screen jadi smsnya dia yang masuk ngga di baca sama gue.
Tapi kenyataanya semenjak kejadian itu gue ngga smsan lagi sampai hari ini. Gue merasa bersalah banget sama dia. Sesekali gue cari nama dia di facebook, ternyata yang namanya ADE SYAH FITRI tuh banyak banget. Adsa sih yang gue add langsung respon, sampai-sampai dia ngundang game 10 kali undangan., tapi malah gue ngga confirm.
Kali ini kata-kata gue ke dia dulu jadi kenyataan. Gue pernah bilang “fit,,, seandainya gue tiba-tiba menghilangdari kehidupan elu, perasaan lu kaya gimana?” gue inget banget gue pernah sms itu sama dia. Mungkin waktu itu fitri kebingungan terus jawab” ya sedihlah ka…” terus dia bilang lagi “ kita tetap sahabat kan?” gue mulai ragu waktu dia nanya kaya gitu, gue ragu karna kita ngobrol jarak jauh, gue ngga tahu dia boong sama gue tau engga. GUE RAGU DENGAN KEJUJURAN DIA.
Pada akhirnya, kita lose contact. Gue merasa jadi merasa jadi manusia terbodoh yang pernah ada. Gue fikir pada saat sahabat itu datang dengan sendirinya, gue malah menyia-nyiakan persahabatan itu. Gue ngga tahu lagi musti ngapain. Yang gue tahu dia itu masa lalu gue, sekarang dia engga ada lagi di hari-hari gue. Gue merasa yang kenal dia itu bukannya gue tapi IBLIS yang menyerupai gue.


MAAFIN GUE…….!!!!
BYE FITRI…..

Kamis, 09 Desember 2010

Pink membisu (puisi)

“ PINK MEMBISU ”
Untuk 26 yang ABSTRAK

Apa itu warna???....
Maaf ku pudarkan
Tombak yang tajam….
Apakah bisa melukai???...
Sebernarnya sakit…

Setiap warna bisa berubah
Akankah menjadi abu-abu???...
Ataukah hitam???...
Tapi… pink adalah pink…
Pink itu buta…..

Ia tetap membatu…
Dan… mungkin mejadi hitam
Hitam yang menyakitkan
Bisu itu… “AKU”….

HILANG (puisi)

HILANG
Untuk cahaya 09.10
(‘10/09”01”)

Jangan pergi…..
Kembali…. Kembali…..

Ku bergetar..
Kekosongan muncul..
“PAHITKAH????”
Sembuhkan ini..

Cepat pulaang…..
Jangan tinggalkan angan..

Semua….. berdiri~~
Merunduk~
Jangan biarkan …
Mata berkilau…
KEMBALILAH…….

siapa dia???

PROLOG
Seperti sebagian anak-anak sekolahan lainya yang mulai beranjak dewasa. Seperti biasa “aku” sibuk memikirka tugas-tugas sekolah yang harus ku kerjakan untuk membantu nilai rapor ku. Tapi sebelumnya maaf aku belum memperkenalkan nama. Teman-teman disekolah biasa memanggilku dengan nama panggilan “Yaya”, memang cukup aneh untuk di dengar, sebenarnya nama lengkapku adalah Septia Indriani Permata, entah… aku tak tahu asala usulnya mereka memanggilku dengan nama yang berbeda dari nama pemberian orang tua ku, padahal yang aku tahu kalau mau ganti nama harus potong kambing dulu,hehehe…
Kegiatan sehari-hariku sebenarnya nggak begitu sibuk, karena aku memutuskan untuk keluar dari beberapa exschool dan menolak beberapa pertandingan dengan alasan yang cukup buat aku, alasan apa lagi selain aku harus berkonsentrasi untuk menghadapi ujian semerter pertamaku di SMA ini
“Buukk….!!!!!!” Locha memukul mejaku, membuatku tersentak sadar dari lamunan yang belum di kertahui kejelasannya.
“woii..ngelamun terus”
sambungnya setelah memukul mejaku seakan dia tidak berdosa. Aku terdiam sejenak dan menjawab
“iya…. Iya…. Sorry….sorry….”
sambil menahan sedikin kesalku aku mencoba menjawab dengan sedikit lembut.
“hari gini.. masih ngelamun?........ kenapa ada masalah apa? Cerita dong… dari pada ngelamun terus, mendingan kita ngelamunin nasib kita……”.
Aku melongo mendengarkan kata-kata yang sok dewasa tapi nggak jelas gitu.
“nasib apa??....” tanya ku, padhal emang tahu maksudnya. Cuma mencoba menegaskan malu bertanya mampet di kepala, hehehe..

Locha mengernyitkan dahi dengan tampang “oh my god”….
“ oh iya… iya ngerti …ngerti…. Maksudnya nasib lo yang first love sama Rendi kan, alah masih kecil udah mikir yang kayak gituan….”
Kata ku polos merasa yang ku jawab itu benar, lagian yang dia maksud itu Rendi, aku juga nggak begitu tahu karena eh karena Locha itu orangnya aneh banget. Kadang-kadang dia cerita tentang Rendi tetangganya yang di Jambi, kadamg-kadang ceritaRendi di Indonesian Idol yah walaupun aku nggak tahu yang mana namanya Rendi di Indonesian Idol itu, aku Cuma bilang tahu.. tahu.. ajah. Eh ada satu lagi Rendi, yang kalau nggak salah namanya Rendi Pangelila yang artis itu. Ah nggak tahu ah ribet… ..
“ eh pleaseeee deh……. Walaupun gue super super cinta banget yang namanya Rendi tapi gue nggak masukin tema pembicaraan kita ke sana……..” jawab Locha dengan sedikit kesal.
Aku menatapnya denagn pandanagan kosong dengan wajah ala detective mmmmmm…… kenapa sih jadi lola (loading lama) kayak Pentium tiga aja.
“oh… iya… sorry…. Sorry….. sob…”, lagi-lagi kata sorry yang harus diucapkan.
“iya deh nggak papa……”, jawabya dengan nada sedang
“maksud gue tadi, lo jangan ngelamun terus bentar lagi kita kan mau ujian semester, so,,,, gue fikir kita focus ke beljar aja dulu…. Kalau ada masalah lo kan bisa cerita sama gue….”, sambung Locha,
Yang menurut aku selama aku hidup baru kali ini aku mendengar lantunan kata-kata dewasa coba dari dlu dia kayak gini, apa sikapnya yang sok dewasa itu menandakan bahwa kiamat sudah dekat, owh my god…… teriakku dalam hati, untung nggak ngeluarin sifat ala lebayku.
Greeeeeeekkk…….!!!!!! Pintu di buka perlahan-lahan, terlihat seorang gadis manis memakai kerudung putih, umurnya tepat dibawah umurku satu tahun.
“Assalamualaikum……..”
Rizqha mengucapakan salam dengan seringai manisnya.
Rizqha adalah sahabatku yang paling muda. Dia leih suka bermain dengan kakak-kakak kelas dari pada dengan teman-teman sebayannya. Walaupun tampangnya kalem gitu, tapi tetap aja yang namanya Rizqha diem-diem punya pacar monyetjuga, eh…. Maksudnya cinta monyet. Hehehe…
Rizqha itu sebenarnay tak tahu apa-apa tentang diriku. Dia tak tahu kalau pacaranya itu dulu juga suka suka sama aku. Aku sama sekali nggak terlalu mementingkan yang namanya pacarandengan umurku yang masih begitu belia. Walaupun kayak gitu aku kan cuek-cuek mahal, Grrrrrr…. Hehehe… sorry narsisan dikit lebay deh lebay…
Aku dan Rizqha itu sebenarnya tak begitu dekat , tapi aku mencoba memahamisi setiap kehidupan manusia yang ada di kehidupan aku.
“kak…. Kakak….!???” Dengan nada yang agak tinggi dia langsung menyerobot masuk ke dalam kelas tanpa babibubebo.
“mmmmmmm kenapa qha??” Tanya ku dengan santainya dengan menunjukkan wajah seserius mungkin padahal sebenarnya sih enggak juga… biasa-biasa aja tuh…
“ini kak… Rizqha ikutan kursus bahasa inggris….”
Teriaaknya Rizqha dengan sesesmangat mungkin, tapi tetap aja nggak ada respon dari kami (warning: orang lebay dilarang ikutan lebay :p ). Wajah Rizqha semakin lama semakin meneduh menunjukkan luka tipis di hatinya. Namun, senyuman tipis masih tetap menyeringai di wajahnya.
“owh… gitu…. “ bisiknya dalam sepoi sepoi angin siang membuat suaranya tak begitu terdengar oleh kami.
“teeeeet…….” Suara bel sekolah mengejutkanku hingga jantungku melompat tanpa batas (menurutku)
“masuuuk…..!!!!” seru locha dan Rizqha dengan heboh seolah-olah memenangkan suatu undian. Sambil sedikiut melangkahkan kaki, aku masih terhanyut karena terkejut oleh bel sekolah. ”oke… masuk” aku baru merespon dengan singkat.


SIAPA DIA????
(Septia)

“KRIIIING…….” Alarm hand phone dengan nada klasik, bagiku nada itu enggak terlalu ribet seperti lagu-lagu band yang ada pada waktu itu, seperti “Kucing Garong….” Uuupzzzz… salah … lagu Kucing Garong? Owh iyya… itu lagu dangdut hehehe,,,, lupa.
Aku terlompat dari tempat tidur denangan gaya hansip yang celinguk-celingukan nguber-nguber maling.
“aduh…. Kurang hajar, lagi mimpi asyik-asyik…. Gue kirain maling…. Uh….”
Gerutuku dalam hati sambil mengusap-usapkan muka selayknya orang yang baru bangun tidur. Aku turun dari tampat tidur dengan nyawa yang masih lima watt.
Kedebuuuuk…….. “awh….sialan sesuatu benda menyandung kakiku……. Mmmmmm…. Ternyata mata kakinya masih tidur, wajar kalau kesandung. Seharusnya setelah bangun tidur harus bangunin dulu, biar sama-sama bangun. Sambil memulihkan untuk berdiri, terlihat sesosok manusia berwujud laki-laki membawa seember air di tangannya.
“untuk apaan tuh kak???.....” tanyaku denagn wajah polos. Terlihat matanya yang merah dan bertanduk setelah aku melontarkan kata-kata sekan tak bersalah, emang sebenarnay aku nggak bersalah….. dasar kakak aja yang sotoy sok-sok an bawa air satu ember.
“pasti mau nyiram aku…”, serinagi hatiku berbicara dengan lantang seperti orang yang membacakan sumpah pemuda setiap tanggalk 28 Oktober.
“eh.,. Ya… kenaopa bangun???....” Tanya kak Tio sambil berapi-api.
Kak Tio adalah supupuku yang tertua. Beberapa minggu ini dia sengaja tinggal di rumahku karena beberapa sebab:
1. Orang tuaku lagi pergi keluar kota
2. Kak Tio lagi study banding ke sekolah yang ada di Jakarta
3. Kak Tio mau lihat tingkah aku selama di rumah karena dia nggak suka kalau adik sepupunya pacaran.
4. Kak Tio pengen punya adik perempuan tapi nggak kesampaian, jadi menurutnya aku tuh bikin geregetan makanya dia betah di Jakarta.
Kalau dilihat-lihat anehg juga sebab-sebab kak Tio mau tinggal dirumahku, karena yang aku tahu Kak Tio tinggal di Jakarta Cuma mau study banding sementara yang diadakan oleh sekolah kak Tio yang ada di Bandung.
“gue padahal senang banget kalau lihat lo masih tidur…… pengen banget rasanya nyiram adikku yang tercinta ini….!” Sambung kak Tio lagi denagn nada lebay, padahal di hatinya kebalik antara bumi dan langit.
“ah… nggak di kasih tahu juga udah tahu……” jawabku dengan nada jutex.
“gue kan punya indera ke delapan…..”
“gitu ya,,,,, kalau punya indera ke delapan yang duanya lagi kemana????”., Tanya kak Tio sambil nyengir-nyengir kuda menunjukkan senyum pepsodent ala seleb, maklum model…….
“yang duanya lagi gue simpan di lemari, kalu di bawa-bawa ntar lo ambil, lo kan nggak modal….” Aku menjawab dengan asal-asalan, sambil memperlihatkan muka manyun dengan kode kesal menjawab semua pertanyaan kak Tio yang aneh-aneh, memang sedikit nyolot tapi pasti.
“eh.. iyya-iyya jangan nangissss,,,” jawab kak Tio dengan kata-kata mengalah, tapi menurutku itu bukan mengalah tapi pasrah. Melihat tingkah laku ku yang super aneh namun menggemaskan. Kemudian ia mengusap-usapkan kepalaku selayaknya kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
Kemudian kak Tio kembali ke halaman belakang rumah dengan membawa ember yang tadi di bawanya.
Aku kembali melanjutkan kesibukanku, yanmg tidak begitu sibuk, berjalan membawa handuk menuju kamar mandi. Tiba-tiba terdengar suara nada dering hand phone.
“iya bentar-bentar…..!!!!!”
Aku berteriak dari dlam kamar mandi sekeras mungkin, tapi aku tahu sebenarnya orang yang lagi calling aku nggak akan tahu apa yang aku katakan.
“teriak-teriak aja terus orangnya kaga’ bakal denger….!!!!!”, teriak seorang manusia berasal dari dalam rumah tetangga yang tak tahu asal usulnya.
“jangan sotoy uiii…… siapa lo nganggu urusan orang….!!!, dasar sotoy…” sahutku dengan kesal.
“haloo… Ya gue hari ini kerumah lo ya bikin tugas kelompok, bahan-bahannya udah gue cari kok, tiggal di edit aja….. boleh ea boleh…. Pleaseee???” suara permohonan seseorang di dalam hand phone itu ternyata Locha, dia tahu kalau dirumahku banyak makanan dan dia juga nggak mau kehilangan kesempatan untuk cari perhatian kak Tio.
“mmmmm….. ya okelah kalau begitu….. tenang aja…. Ntar gue siapin makanan kesukaan lo…”
“oke… sip.. bye…”, suara locha kenudian terputus.
Aku kembali lagi kekamar mandi untuk melanjutkan misi di dalam kamar mandi….. yang pastinya mandi.
Setelah aku menyelesaikan misiku di kamar mandi, aku merasakan ada sesuatu yang lupa.
“owh iyah baju ku ketinggalan diluar…. Udah kering belum ya??”, tak sadar kali ini aku berbicara sendiri lagi.
Salah satu kebiasaan yang sulit dihilangkan bagiku yaitu menjemur pakaian di luar lantai atas karena memang cukup efisien, selain lebih cepat kering juga tempatnya paling dekat dari kamarku. Aku keluar dari kamar dengan tingkah ala detective mengintip keadaan diluar supaya nggak ketahuan kalau ada cewek yang keluar Cuma menggunakan sehlai handuk. Setelah mengetahui bahwa suasananya sudah cukup aman. Aku langsung keluar dengan langkah seribu. Akhirnya tangan-tangan ku berhasil mraih baju-baju yang kering, ketika baru setengah perjalananmenuju kam,ar kembali.
“cuit….cuit….” suara siulan cowok menghentikan langkahnya. Aku mencoba melangkahkan badan dan mencari sumber suara itu berasal. Sambil melihat kiri kanan, depan belakang.
“huh….. ternyata nggak ada orang…… tapi siapa yang siul??.... nggak mungkin pagi-pagi gini ada hantu, h masa ia ada hantu yang suka sama aku…… hih ada-ada aja……”
Aku berlari ke kamar dengan nafas yang terengah-engah….. menunda kebengongan yang mungkin akan dilakukan, sekaligus cepat-cepat memakai baju. Sepintas rasa penasaran berkeliling di kepalaku, tetapi rasa ketukan pintu meredakan rasa penasaran.
“tok…tok…tok……”
“ya… ni gue Locha…”
Locha menyebutkan namanya dengan suara yang pelan, ternyata karena kak Tio sedang ketiduran dii ruang TV.
“cha…. Lo bisa siul…” aku bertanya dengan penuh penasaran.
“ea… nggak lah gue kan cewek tulen gitu loh…”, seperti biasa dia Cuma biasa bilang ketulenannya itu dibandingkan yang lain. Aku Cuma bisa terdiam sejenak, memikirkan hal-hal yang aneh, tapi nyata.
Angin pagi bertiup dari jendela kamar yang terbuka, Membelai denagn lembut rambut-rambutnya. Wajahku menatapku dengan pandangan aneh. Mungkin dia berfikir ada masalah yang besar untuk dihadapi olehku, keheningan datang tanpa di undang.
“ ada apa sih Ya….??”
“nggak… nggak ada apa-apa…”
“ya udah kalau gitu, lo ganti baju situ….”
“iyah…”
Hening._

  

“udah pakai bajunya….” Locha berbasa basi
“sepoerti yang lo lihat sendiri…”
“Bikin tugas yuk….”
“ok….”
“nih…. Tugasnya…”
“yupzzz…”
Suasana menjadi serius dan hening.
Beberapa menit kemudian:
“yes selesai…”
“Alhamdulillah….”
“saatnya makan…..!!!!!” locha berteriak melepaskan suasana hening. Tiba-tiba, “pluuuuk…..” segenggam kertas berisi tulisan

"woyyyy... jngan RIBUUTTT..."


Melihat selembar kertas itu, kami berdua saling bertatapan mengingat kejadian tadi pagi, serasa ada yang aneh dengan tetangga sebelah. Nggak biasanya tetangga ku jadi bertingkah aneh seperti itu, rasanya nggak mungkin kalau tetangga aku itu gila atau setres, kemarinkan dia datang ke rumah dengan keadaan sehat wal afiat. Perasaanku saat ini dikejar-kejar oleh rasa penasaran atau mungkin hanya sebatas kekesalan yang dari tadi pagi hingga sekarang. Wajah locha pun penuh tanda Tanya.
“siapa sih Ya…. Iseng banget….”
“nggak tahu ah…. Biarin aja….”
“siapa…. Siapa… ayo….???!!”
“mana gue tau,,,, Tanya sendiri sama orangnya…”
Kesal memang ada di perasaanku saat ini, tapi ya… sudahlah, seringaiku dalam hati tetap saja bicara. Mungkin aja ada orang ngefans banget tuh sama aku hehehe… upzz gee r…



Locha selesai mengunyah-ngunyah cookies yang berada dimulutnya yang mungil. Tanpa ada rasa ogah-ogahan atau yang disebut malu, ia langsung menyerobot dua bungkus cookies dan segelas ice tea. Dia nggak ada rasa malu sedikit pun untuk menghabis-habiskan makanan hingga dia puas, mumpung nggak ada kak Tio, kalau ada pasti malu banget, soalnya Locha naksir sama kakak sepupuku yang lumayan itu….
Aku hanya menggeleng dengan tingkah locha yang super aneh itu dan kemudian pandangaku tertuju ke dalam rruang TV, ternyata kak Tio sedang tidur di sofa kesayangannya yang selalu di puji-puji ketika baru pertama kali melihatnya, tapi sayangnya dia bernyanyi dengan nyanyiannya yang unik… maksudnya mendengkur…., kalau ketahuan sama Locha dia pasti bakal nggak jadi naksir sama kak Tio, tapi emang handsome siih,,,,, aku aja muji,,, apa lagi Locha…
“eh…. Yaa….”
Locha datang dengan muka puas karena sudah menghabiskan semua cookies yang ada di meja.
“kenapa lu…”
“boring ni… kalau udah kenyang pasti bawaannya ngantuk….gue punya ide, biar nggak boring gimana kalau kiat main badminton aja, halaman rumah lo lumayan luas tuh……”
“ok… sip… gue cari peralatannya dulu ea…”
Aku pergi ke gudang mencari peralatan yang udah lama tersimpan. Semuanya masih seperti yang dulu, walaupun debu-debu udah menghiasinya setebal tiga sentimeter, tapi masih lumayan di gunakan. Dari pada nggak ada sama sekali…. Enakan yang ada….
“Yaaaaa…. Cepetan ……” panggil locha dari halaman rumah
“bentar… bentar…., udah dapet ni alat-alatnya…”
“yo,,,i… gue udah dapat tempat yang strategis nih buat kita main…”
Selesai Locha mengucapkan kata-katanya aku sudah berada di depannya, maklum udah belajar jurus andalan dari Gatot Kacha dengan jurus kilat ku…. Wajar kan…
Semua peralatan telah di pasang kini saatnya aku mengambil ancang-ancang servis… aku nggak mau kalah dengan etlet kelas kecamatan.
“ancang-ancang siap 1…2…3…”
Syuuuuut…… hasil servisku di tangkis oleh Locha dan menukik ke tanah….
“hah….????”, sambil pasang muka bengong, ternyata eh ternyata atlet Indonesia Maria Crhistien dikalahkan oleh atlet kelas kecamatan…. Nggak mungkin….???
“Septia….. kali ini gue yang servis….”
“tenang aja hasil servisan lo pasti dengan mudah gue tangkap”
“lo buktiin…..”
Kali ini Locha yang bersiap-siap berada pada posisi servis. Dengan gaya-gaya ala atlet kecamatannya dia mulai memukul bola sekencang mungkin. Septia dengan mudah berhasil menangkap bola, namun nasib buruk datang, karena terlalu bersemangat menangkap bolanya…. Tiba-tiba….buukkk…
“adaw….!!? Siapa yang punya bola ini woy…??”
“so… sorry…. Maaf gue nggak sengaja… tadi gue mukul bolanya kekencangan, sorry… lo nggak apa-apa kan..??”
Tiba-tiba suara menjadi hening. Tak ada jawaban dari lelaki itu…. Dan secara tiba-tiba laki-laki itu menjawab.
“ia gue maafin lain kali hati-hati ya…” jawab laki-laki itu dengan hangat….. suara laki-laki itu sama persis dengan orang menganggunya tadi pagi, kemudian bola badminton melantun ke hadapan ku ….
“siapa Ya…??, tetangga lo baik beruntung banget lo punya tetangga ramah…. Eh … tapi ngomong-ngomong baru kali ini gue denger suaranya dia?... dia orang baru Ya? Lo kenal ama dia???”

Jumat, 03 Desember 2010

~~JUJUR~~
Dalam karya sudut 09.15
(‘10/09”01”)

Kau luapkan uap ….
Yang terperangkap
Sekarang bertebaran…
Tapi… menabjubkan.

Memiliki arti…
Tebarkan gundah….
“pedih”
“sakit”
“bahagia…”
Semua yang kau punya…

KALUARKAN…..
Harapanmu……
Tercapai…..